Dalam rangka memantapkan dan mempercepat pengentasan kemiskinan melalui padat karya dan penurunan stunting di wilayah rentan rawan pangan, maka dikembangkan Kawasan Mandiri Pangan. Kawasan yang dibentuk terdiri dari 1 (satu) desa yang meliputi 2 (dua) kelompok dengan jenis usaha/komoditas yang berbeda. Alokasi kegiatan Kawasan Mandiri Pangan di 20 kawasan pada 20 kabupaten.

Kawasan Mandiri Pangan merupakan kawasan yang dibangun dengan melibatkan keterwakilan masyarakat yang berasal dari desa-desa terpilih, untuk menegakkan masyarakat miskin melalui padat karya dan penurunan stunting di wilayah rentan rawan pangan menjadi masyarakat mandiri.

Pelaksanaan Kegiatan Kawasan Mandiri Pangan dilakukan dalam (tiga) tahap selama 3 (tiga) tahun : Tahap Pengembangan (tahun I), Tahap Kemandirian (tahun II), dan Tahap Keberlanjutan (tahun III). 

Tujuan kegiatan Kawasan Mandiri Pangan yaitu: 

  1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat miskin melalui padat karya dan penurunan stunting di wilayah rentan rawan pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan masyarakat berlandaskan kemandirian;

  2. Meningkatkan pengelolaan kelembagaan masyarakat untuk ketahanan pangan masyarakat; dan,

  3. Meningkatkan dukungan lintas sektor untuk pengembangan prasarana sarana perdesaan dan perekonomian masyarakat.

Sasaran : Rumah Tangga Miskin (RTM), prevalensi stunting berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan Kementerian PPN/Bappenas, di wilayah rentan rawan pangan yang mempunyai potensi pengembangan komoditas unggulan di 20 kawasan pada 20 kabupaten.

Strategi yang digunakan untuk pencapaian tujuan kegiatan Kawasan Mandiri Pangan dilaksanakan melalui prinsip: Kemandirian, Kecukupan Ekonomi, Partisipatif, Transparan dan Kredibel.

Pendekatan kegiatan Kawasan Mandiri Pangan dilakukan melalui tiga komponen: (1) pemberdayaan masyarakat, (2) penguatan kelembagaan masyarakat, (3) peningkatan koordinasi lintas sektor.

  1. Proses pemberdayaan masyarakat kepada kelompok, yang selanjutnya disebut kelompok tani dapat dilakukan melalui: (1) pelatihan; (2) demplot; (3) pendampingan; dan (4) peningkatan akses untuk pengembangan kerja sama partisipasi inklusif; (5) peningkatan kapasitas individu dan kelompok, perubahan sosial dan ekonomi yang lebih baik.

  2. Proses penguatan kelembagaan dapat dilakukan melalui: (1) pelatihan teknis (administrasi keuangan, organisasi dan kelembagaan); (2) pendampingan pengelolaan modal kelompok; (3) peningkatan kerjasama dengan lembaga permodalan; dan (4) kemitraan dengan berbagai pihak untuk memperluas hubungan jejaring modal dan pemasaran.

  3. Proses peningkatan koordinasi lintas sektor dapat dilakukan melalui:  (1) rapat koordinasi kawasan baik di level pusat, provinsi, dan kabupaten; (2) pembentukan dan optimalisasi tim provinsi dan kabupaten untuk mendorong percepatan sarana prasarana; (3) dan kerja sama program/kegiatan antar lintas sektor untuk mendukung peningkatan ketahanan pangan di kawasan.

Sasaran Kawasan Mandiri Pangan

Uraian

Tahun

2015

2016

2017

2018

2019

Kawasan Mandiri Pangan 

                192 

                190 

                110 

                135 

                  75