Percepatan Diversifikasi Pangan Lokal Untuk Mendukung Kedaulatan Pangan Nasional

Diterbitkan pada Berita Umum Pada 25 Oct, 2017

Views: 717

Pemanfaatan pangan lokal secara masif dinilai mampu memberikan kontribusi positif untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional. Ajakan ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan termasuk dari kalangan DPR RI yang dihadiri Wakil Ketua Komisi VII Herman Khaeron dan Kepala BKP Kementan Agung Hendriadi, Staf ahli Mentan Garjita Budi, serta dihadiri juga oleh Kepala BPPT yang diwakili oleh Prof Dr,Eng Eniya Listiani Dewi, di Aula Balitbangtan Kementan pasar Minggu jakarta Selatan, Selasa (24/10/2017). Diskusi pagi itu dalam bentuk talkshow menekankan pentingnya membumikan program Diversifikasi pangan di Indonesia. Gerakan ini memang tidak mungkin cepat terlihat hasilnya,tetapi juga tidak cukup hanya diampaikan dalam bentuk pameran aneka olahan makanan atau kontes resep masakan pangan lokal. Balitbangtan Kementan ditantang untuk dapat mewujudkan beberapa kawasan Diversifikasi pangan yang dapat dijadikan sebagai model gerakan Diversifikasi pangan kedepan. "Inovasi teknologi maupun formula rekayasa sosial yang ada dapat dicoba untuk diterapkan pada wilayah yang disasar sehingga dapat terbentuk kawasan Diversifikasi pangan yang ideal sesuai budaya setempat. Juga dapat menjadi acuan pengembangan kawasan dilokasi lain. Seperti di daerah Demak dan daerah larantuka NTT Diversifikasi pangan berbasis sorgum. Juga di papua dengan pangan lokal dari sagu serta pangan lokal ubi kayu di Cimahi. Pada talkshow pagi itu terungkap, pengembangan model kawasan Diversifikasi pangan menjadi komitmen riset pangan di BPPT dan berbagai inovasi teknologi telah dihasilkan BPPT terutama perekayasaan alsin pegelolaan sagu. Balitbangtan dan BPPT perlu melakukan sinergi yang kuat untuk keberhasilan program Diversifikasi pangan untuk mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia. Pada acara talkshow pagi itu,Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi mengatakan, Kementerian Pertanian RI, siap menjalankan program diversifikasi pangan pada 2018 mendatang. "Mulai 2018 kami mulai gerakkan kembali diversifikasi pangan, selama ini hanya kampanye saja," tegas Agung pada wartawan JakartanewsOn usai acara Diversifikasi pangan di Badan Litbang Kementan. Agung mengatakan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah memberikan perintah agar diversifikasi pangan bisa dilaksanakan pada 2018 mendatang. "Ada roadmapnya, kami punya target kira-kira 16 provinsi yang mempunyai potensi pangan lokal dan itu yang akan kami angkat," kata Agung Hendriadi. Deputi BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Eniya Listiani Dewi. Menambahkan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus mendorong industrialisasi diversifikasi pangan melalui inovasi. Contoh yang telah dilakukan, mengembangkan teknologi untuk jagung dan kedelai di Grobogan, Jawa Tengah. "Dulu UMKM buat diversifikasi pangn kecil-kecil per kelompok dan tidak berstandar. Kita kumpulkan supaya berstandar dan jadj industri menengah dan besar,"kata Eniya Listiani Dewi saat diskusi pagi itu di kantor Balitbangtan Kementan. BPPT melalui Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) di Lampung Tengah pun telah mengembangkan beragam produk olahan dari singkong. Selain makanan, B2TP turut memproduksi obat pilek. "masih banyak upaya BPPT lainnya dalam menggalakkan diversifikasi pangan dan industrialisasinya, termasuk soal komoditas yang diolah. Misalnya, olahan kedelai yang menghasilkan protein guna memaksimalkan penyerapannya oleh tubuh. Bahkan kata Eniya Listiani Dewi, hasil olahan kedelai tersebut bisa menjadi panganan di kondisi darurat. Kala bencana, misalnya. Kemenko PMK pun pernah meminta BPPT mendistribusikan hasil olahan kedelai itu ke daerah bencana. "Bekerja sama dengan daerah, pemda, kita juga berikan satu produk pangan fungsional," tambahnya. BPPT kata Eniya Listiani Dewi pihaknya mendorong transfer teknologi demi mengembangkan usaha. Malah, ada BUMN yang siap memberikan royalti sebesar 15 persen. Diharapkan penawaran tersebut mendorong peneliti dan perekayasa untuk produktif. Eniya Listiani Dewi juga mengatakan, sangat bersyukur terhadap kebijakan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, pro diversifikasi pangan. Dia berharap Kementerian Pertanian (Kementan) dan BPPT bisa bersinergi dalam isu diversifikasi pangan. Salah satunya, mendorong peningkatan konsumsi protein hewani dari ternak," katanya. Pada acara Diskusi yang sama pagi itu,Herman Khaeron wakil ketua Komisi VII DPR RI yang juga senior politisi Partai Demokrat mengatakan, instrumen menuju diversifikasi pangan tidak mudah. Alasannya, berasinasi menghantui Indonesia. Akibatnya, hampir seluruh penduduk kini mengonsumsi beras. "Ini menakutkan," katanya. Padahal kata Herman Khaeron,logistik yang membantu para pejuang di era penjajahan merupakan pangan non-beras. Soalnya, para gerilyawan umumnya berada di dataran tinggi, sehingga tak mungkin menanam padi. "Tapi, sesuai keanekaragaman pangan lokal," sambung dia. Meski demikian kata Herman Khaeron, dirinya menyatakan dukungannya terhadap gerakan diversifikasi pangan yang diusung Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Menteri Andi Amran Sulaiman. "Saya berikan apresiasi kepada Pak Menteri untuk capaian diversifikasi hingga 4 persen," akunya. Adapun beberapa pertimbangan Herman Khaeron legislator asal daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat VIII itu mendukung diversifikasi pangan. Pertama, menghemat konsumsi beras hingga 20 ton per tahun, bila tiap orang tak mengonsumsi beras satu kali setiap harinya. "Sudah, urusan beras amanlah," yakinnya. Kedua, menjadi alternatif pendapatan bagi masyarakat. Soalnya, pangan pengganti beras, seperti pisang, ubi, dan ketela pohon mudah ditanam serta bisa diolah menjadi aneka ragam produk. Untuk membudidayakannya pun tak memerlukan lahan luas serta pengelolaannya cukup mudah. Sumber: Jakarta News

Berita Terkait

  • Khawatir Harga Gabah Anjlok, Petani Minta Bulog Lakukan Pembelian Sekarang

    Beberapa daerah sentra produksi beras saat ini sedang panen raya dan mestinya petani bergembira menikmati hasil usahataninya. Namun beberapa petani  mengeluh karena harga jatuh dan Bulog belum bergerak melakukan pembelian.

    Sejumlah petani di daerah sentra produksi yang dihubungi mengeluhkan dan mengharapkan Bulog segera turun tangan melalukan pembelian gabah mereka.

    Lalu Saleh,  petani dari Lombok Barat - Nusa Tenggara Barat mengeluhkan,  sudah seminggu ini harga gabah menyentuh angka Rp. 4.000/kg gabah kering panen (gkp).

    "Sudah seminggu ini harga gabah mencapai 4.000 dan cenderung turun teru...

  • BKP Kementan Tugaskan CPNS Kawal Program PKU dan PIPL

    Setiap tahun Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian mengidentifikasi lokasi-lokasi yang masih terdapat kerentanan pangan di Indonesia dengan basis Kabupaten.

    Setelah berhasil meningkatkan status ketahanan pangan wilayah di 177 kabupaten melalui Kawasan Rumah Pangan Lestari dan Kawasan Mandiri Pangan, mulai tahun 2019 BKP melakukan intervensi melalui Pengembangan  Koorporasi Usahatani (PKU) dan Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL).

    Tujuan kegiatan PKU adalah meningkatkan nilai tambah produk komoditas kelompoktani dan kesejahteraan petani.

    Sedangkan PIPL bertujuan untuk meningka...

  • Program Kampung Hijau Sejahtera Sebagai Pengembangan KRPL Kementan Dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat

    Pandeglang (BKP) - Jawa Barat.  Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja tahun ini meluncurkan sebuah kegiatan bertajuk Kampung Hijau Sejahtera (Kampung Hijrah) pertama kalinya di Desa Margagiri, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, prorinsi Banten Senin (11/3).

    Kegiatan Kampung Hijrah  bertujuan untuk memanfaatkan dan  menghijaukan pekarangan guna meningkatkan ekonomi produktif keluarga serta pelestarian tanaman lokal.

    Kegiatan ini digagas dan dipelopori oleh OASE KK bidang Lingkungan Hijau (bidang V) yang diketuai oleh Rugaiya Usman Wiranto (Kementerian Koordinator Bidang P...