Pengembangan Industri Pangan Lokal Berbasis Sagu di Merauke

Merauke - Indonesia memiliki potensi tanaman sagu terbesar di dunia, yaitu mencapai 5,5 juta hektar dari total 6,5 juta hektar luas lahan sagu di dunia. Dari total luas tersebut, 5 juta hektar berada di Papua.


Dalam upaya mengoptimalkan tanaman sagu, pada tahun 2019 Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan melakukan kegiatan Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL) yang salah satunya di kabupaten Merauke Papua.


Penempatan PIPL di Merauke sangat tepat, karena para petani masih mengusahakan tanaman sagu secara manual, belum menggunakan mesin pengolah sagu, sehingga hasilnya belum optimal.


Sejak adanya kegiatan PIPL  di Kampung Tambat Merauke, para petani sagu sangat bersemangat dalam bekerja, sehingga mampu melipatgandakan produksinya.


"Kami sangat senang, PIPL masuk di kampung tambat ini," ujar Yakobus, salah seorang petani sagu.


Menurut Yakobus, yang juga Ketua Kelompoktani Dwitrap, Kampung Tambat,  mempunyai potensi Sagu 250 hektar,  sedangkan yang digarap Kelompoktani Dwitrap baru seluas 15 hektar.


"Sejak adanya bantuan alat mesin pengolah sagu melalui kegiatan PIPL Badan Ketahanan Pangan, kami jadi lebih bersemangat dan produktif mengolah tanaman sagu menjadi tepung sagu," ujar Yakobus, yang ditemui di Kampung Tambat, Kamis (19/12).


Menurut Yakobus, melalui bantuan peralatan kegiatan PIPL,  sebatang pohon sagu yang biasanya dikerjakan 3 sampai 5 hari dan menghasilkan 250 kg sagu basah atau 125 kg sagu kering, kini sebatang pohon sagu ukuran 10 sampai 12 meter  dikerjakan hanya 1 hari, dan menghasilkan 480 sagu basah atau 240 kg sagu kering.


"Saya sangat berterimakasih adanya bantuan peralatan PIPL ini, karena selain mampu meningkatkan produksi yang berlipat, pendapatan dan kesejahteraan kami juga bertambah," ujar Yakobus yang didampingi anggota kelompok lainnya.


Asisten II Bidang Perekonomian Merauke Sunarjo yang ditemui mengatakan, sangat berterimakasih adanya bantuan dari Kementerian Pertanian.


"Kami akan dukung pengembangan sagu di Merauke, karena sagu ini bukan hanya tanaman untuk dikonsumsi, tetapi juga menjadi tanaman adat yang perlu terus dikembangkan," ujar Sunarjo.


Sunarjo juga akan membantu pengembangan sagu diwilayahnya melalui APBD, dan  pemasarannya.


"Semua rapat-rapat dan pertemuan, konsumsinya harus menggunakan pangan lokal dari sagu," ujarnya.


Sementara itu, Kepala BKP Agung Hendriadi menjelaskan, bahwa kegiatan PIPL difokuskan pada produksi tepung berbasis pangan lokal, sebagai alternatif bahan baku untuk industri pangan olahan, sehingga secara bertahap ketergantungan pada gandum diharapkan terus berkurang.


“Kita punya banyak sumber pangan lokal yang bisa diproduksi jadi tepung. Sebagian bisa substitusi tepung menjadi bahan substitusi gandum," kata Agung.


Ditambahkan Agung, kalau saja tepung sagu bisa menyubstitusi gandum 10-20 persen, tentu dampaknya luar biasa, tidak saja bagi pengembangan tepung sagu di tanah air, namun juga akan mensejahterakan petani.


Upaya BKP mengembangkan pangan lokal berbasis sagu, sangat sejalan dengan apa yang dilakukan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.


“Usaha pegembangan pangan lokal ini harus kita kembangkan, karena potensinya sangat luar biasa untuk ketahanan pangan nasional," kata Syahrul Yasin Limpo dalam acara Gelar Pangan Lokal di Yogyakarta (8/12/2019).