Berita BKP

Jagung Manfaatnya Segunung

Jakarta---Di tengah masyarakat yang makin tergantung nasi sebagai makanan pokok, pemeirntah mendorong peningkatan konsumsi jagung sebagai substitusi sumber karbohidrat. Selain membuat kenyang, jagung juga kaya gizi sehingga cocok sebagai pangan masa depan.

Data Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian tahun 2019 konsumsi jagung baru mencapai 1,7 kg/kapita/tahun dan ditargetkan pada tahun 2024  menjadi 4,1 kg/kapita/ahun 2024. Dengan meningkatnya konsumsi pangan lokal, khusus jagung, diharapkan konsumsi beras (nasi) menurun

“Dalam upaya diversifikasi pangan, tentunya kita bertekad menurunkan konsumsi beras menjadi 85 kg/kapita/tahun pada 2024. Saat ini posisi konsumsi beras nasi sebanyak 94 kg/kapita/tahun,” kata Plt Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy saat webinar Tabloid Sinar Tani, Jagung Sumber Karbohidrat Kaya Manfaat, Rabu (7/9) di Jakarta.

Setidaknya ada tujuh provinsi yang menjadi target pemerintah dalam peningkatan konsumsi jagung yakni, NTT, NTB, Bali, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Jawa Timur dan Lampung.  

Namun Sarwo mengakui, tantangan yang dihadapi dalam diversifikasi pangan adalah persepsi masyarakat. Bagaimana kenyang tidak harus nasi, tapi bisa berasal dari sumber karbohidrat lainya.

“Upaya yang dilakukan meliputi adalah mengubah prilaku masyarakat dalam konsumsi pangan dan menyadarkan masyarakat mengenai konsumsi pangan beragam, bergizi, berimbang dan aman,” katanya. Dengan demikian, lanjut Sarwo, ketergantungan terhadap nasi sebagai makanan pokok makin berkurang.

Sedangkan sentra produksi jagung berada di Jawa Timur dengan produksi 5,37 juta tonJawa Tengah (3,18 juta ton), Lampung (2,83 juta ton), Sumatera Utara (1,83 juta ton), Sulawesi Selatan (1,82 juta ton)NTB (1,66 juta ton), Jawa Barat (1,34 juta ton), Sulawesi Utara (0,92 juta ton), Gorontalo (0,91 juta ton) dan Sumatera Selatan (0,80 juta ton).

Keunggulan Jagung

Dengan potensi produksi jagung di dalam negeri, Sarwo menilai, menjadi peluang dan modal besar untuk meningkatkan konsumsi jagung. Apalagi jagung memiliki cukup banyak keunggulan. Pertama, jagung mengandung pati relatif tinggi, sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku industri, makanan/minuman serta penghasil bioetanol sebagai bahan bakar alternatif

Kedua, jagung mengandung pigmen antosianin, yang berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh. Ketiga, jagung mengandung asam lemak jenuh (palmitat dan stearat) serta asam lemak tidak jenuh, yaitu oleat, linoleat, dan linolenat, yang merupakan asam lemak esensial yang tidak dapat diproduksi tubuh.

Keempat, jagung mengandung serat pangan yang dibutuhkan tubuh (dietary fiber) dengan indeks glikemik (IG) relatif rendah dibanding beras (padi), sehingga beras jagung dianjurkan bagi penderita diabetes. Serat berperan menjaga kolesterol dan gula darah agar tetap normal.

Sementara itu Guru Besar IPB University, Ahmad Sulaeman, peluang jagung menjadi sumber karbohidrat sangat terbuka. Apalagi kini ada perubahan sikap untuk hidup lebih sehat, mempertahankan kekebalan dan meningkatkan imun, sehingga masyarakat sehat dari pangan dibandingkan mencari obat.

“Saat ini ada perubahan dalam pola pangan. Dulu makan untuk hidup, tapi sekarang makan untuk sehat. Makan yang baik adalah makanan yang sehat. Sesuai anjuran Hippocrates, makanan menjadi obat kita,” ujarnya.

Sulaeman mengatakan, semakin banyak bukti ilmiah yang menunjukkan konsumsi jagung menurunkan risiko perkembangan penyakit kronis. Misalnya, penyakit kardiovaskular, dibates tipe 2 dan obesitas, serta memperbaiki kesehatan pencernaan.

“Bukti ilmiah itu mampu mengangkat minet riset dalam pengembangan varietas jagung baru dan menciptakan ingridient berbasis jagung dengan nilai gizi dan sifat fungsional yang diperbaiki,” katanya.

Beberapa manfaat kesehatan jagung menurut Sulaeman adalah bebas gluten, sehingga dapat mencegah celiac disesase dan autis. Jagung juga bermanfaat untuk sistem pencernaan, karena mengandung serat dan prebiotik. Dengan kandungan K dan Mg, jagung juga dapat mengontrol hipertensi. “Jagung merupakan pangan super food. Selain bergizi baik, tapi juga bermanfaat untuk kehatanan kita,” ujarnya.

Potensi pengembangan jagung sebagai pangan olahan cukup terbuka. Dari isi teknologi sudah tersedia. Balai Besar Pasca Panen,  Balitbang Pertanian telah menghasilkan teknologi pengolahan jagung. Sementara itu, Prof. Slamet Budiharjo, pimpinan FTIS Mandiri yang juga Guru Besar IPB telah memproduksi beberapa produk pangan berbahan baku jagung.  Bahkan Muhrodi, pelaku usaha di Kebumen, Jawa Tengah telah berhasil memproduksi beras jagung Mutiara.


Sumber : https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/pangan/18062-Jagung-Manfaatnya-Segunung

Berita Terkait