“GENTANASI” Gerakan Makan Tanpa Nasi

Diterbitkan pada Berita Umum Pada 22 Sep, 2017

Views: 379

Manado (22/09) Potensi pangan lokal yang berlimpah di Provinsi Sulawesi Utara perlu dikenalkan kepada masyarakat sebagai alternatif pangan sumber karbohidrat. Inilah yang mendasari kerjasama Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian dengan Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Utara menggelar kembali Gerakan Penganekaragaman Pangan melalui “Gentanasi” Gerakan Makan Tanpa Nasi di Graha Bumi Beringin, Manado.

Gentanasi bukan berarti tidak makan nasi sama sekali melainkan dalam satu minggu mengganti 1 kali waktu makan dalam sehari dengan pangan lokal selain nasi.

untuk lebih membumikan “GENTANASI" dimasyarakat dilakukan Penandatanganan kesepakatan (MoU) dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Sulawesi Utara dalam penyediaan menu di hotel dan restoran yang mengoptimalkan bahan baku pangan lokal sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras dan terigu.

Acara ini untuk memperingati HUT Provinsi Sulawesi Utara ke-53, dengan mengelar Lomba Festival Pangan Non Beras dan Non Terigu yang diikuti Ibu -Ibu TP PKK se-Provinsi.

Menurut Ibu Gubernur, Rita Dondokambey Tamuntuan, kegiatan diharapkan dapat meningkatkan kreasi menu pangan lokal berbahan dasar selain beras dan terigu seperti pisang, ubi, jagung dan sagu. "Kita tidak bisa bergantung sepenuhnya terhadap beras, tetapi mengganti nya dengan kearifan lokal yang kita miliki. Untuk itu saya harapkan para ibu dapat mengkreasikan menu pangan lebih beragam dan bergizi" kata Rita.

Kepala BKP Agung Hendriadi dalam sambutan yang dibacakan Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Tri Agustin Satriani menyatakan bahwa upaya percepatan diversifikasi pangan sangat penting dilaksanakan, mengingat pola konsumsi pangan penduduk Indonesia belum beragam dari jenis pangan dan keseimbangan gizinya.

“Upaya menurunkan konsumsi beras dan terigu harus diikuti dengan penyediaan pangan karbohidrat dari pangan lokal seperti sagu, singkong, ubi jalar, sukun, ganyong, pisang dan sebagainya” lanjut Agung. Menurutnya salah satu langkah strategis yang perlu dilakukan adalah mengembangkan pola konsumsi beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA).

Sedangkan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven Kandouw mengatakan Gerakan Tanpa Nasi merupakan program yang berdampak positif dalam mengurangi ketergantungan masyakat terhadap nasi.

“Melalui Gentanasi, ketergantungan masyarakat terhadap beras bisa dikurangi, karena di Sulawesi Utara sumber pangan pokoknya berasal dari umbi-umbian. Untuk itu program ini harus terus digencarkan” katanya.

Salah satu kearifan lokal yang sedang dikembangkan adalah pisang GOROHO yaitu pisang khas sebagai sumber makanan masyarakat Minahasa sejak jaman dahulu. Selain itu, di Kepulauan Sangihe terdapat Sagu, yang dibiarkan tumbuh tanpa perawatan dan perhatian, ternyata merupakan makanan lezat dengan kandungan gizi cukup tinggi dan dapat dijadikan sebagai makanan bergizi bagi masyarakat.

Sedangkan di Minahasa dan Minahasa Selatan terdapat pangan lokal jagung yang diolah menjadi beras milu (beras jagung) dan sinduka (tepung jagung), yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Kegiatan ini selain mensosialisasikan program percepatan penganekaragaman pangan dengan memperkenalkan potensi pangan lokal sebagai alternatif pangan sumber karbohidrat, juga membudayakan pola pangan non beras non terigu serta meningkatkan kualitas pola konsumsi pangan masyarakat mengurangi tingkat konsumsi beras. Hal ini membuktikan keseriusan pemerintah daerah dalam meningkatkan penganekaragaman konsumsi pangan sebagai implementasi Peraturan Gubernur Sulawesi Utara Nomor 18 Tahun 2010 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian berkontribusi untuk pengembangan sagu dan jagung melalui program Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L) pada tahun 2012, 2013, 2015 dan 2016, yang dilaksanakan dengan memberikan bantuan mesin-mesin pengolah sagu dan jagung, dan pendampingan oleh petugas yang kompeten di bidang pengembangan sagu dan jagung

Berita Terkait

  • Kementan Gandeng Pemprov Sumut Gelar OP Bawang Putih

    Medan - Untuk meredam melonjaknya harga bawang putih di Sumatera Utara (Sumut) yang sempat menyentuh harga Rp.90.000/kg, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) mengadakan Operasi Pasar.

    Sebanyak 5 container  masing-masing 29 ton bawang putih impor yang tiba  di Belawan Rabu, (13/4) langsung disebar di berbagai pasar di kota Medan.

    "Operasi pasar ini kami lakukan untuk menstabilkan harga bawang putih di tingkat konsumen yang mengalami tren kenaikan beberapa waktu terakhir," ujar  Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementan Riwantoro saat mel...

  • Kementan Pastikan Pasokan Pangan Pokok Aman Selama Ramadhan dan Iedul Fitri

    Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pasokan pangan pokok selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) terutama bulan Ramadhan dan Iedul Fitri 1440 H mencukupi. Kepastian tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementan yang mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9).

    "Kita sudah cek, kondisi ketersediaan pangan pokok kita aman, baik untuk bulan puasa dan hari raya Iedul Fitri," terang Agung, dalam acara bertajuk 'Pengendalian Harga Pangan' tersebut di Gedung Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo)...

  • Harga Cabai Jatuh, Kementan Gerak Cepat Bantu Petani Tuban

    Memasuki panen raya, harga berbagai jenis cabai di Kabupaten Tuban Jawa Timur, khususnya di Kecamatan Grabagan jatuh. Laporan petugas pencatat harga,  Sabtu (11/5), harga cabai rawit merah (CRM) sekitar 4.500/kg dan cabai merah keriting (CMK) Rp 5.500/kg, dari harga seminggu sebelumnya yang berkisar Rp 10.000/kg.

    Merespon kondisi tersebut, Kementerian Pertanian bergerak cepat turun lapangan membeli cabai  petani dengan harga yang lebih mahal, yakni Rp. 8.000/kg untuk mencegah kerugian petani sekaligus  memberi semangat agar petani tetap menanam pada musim berikutnya.

    "Kami bersama-sama turun k...