FAO Ajak Generasi Muda Sultra Jangan Malu Makan Olahan dari Sagu

Diterbitkan pada Berita Umum Pada 06 Nov, 2017

Views: 232

Kendari, Food and Agriculture Organization (FAO), lembaga pangan dan pertanian dunia yang berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai keberadaan sagu di Sulawesi Tenggara (Sultra) harus menjadi kebanggaan masyarakat Bumi Anoa. Assistant FAO Representative Indonesia Ageng Setiawan Herianto mengatakan, saat ini tanaman sagu merupakan salah satu komoditi yang menjadi perhatian pemerintah pusat melalui kebijakan strategi pengembangan diversifikasi pangan lokal. “Jadi kalian semua harus bangga dengan sagu di Sultra, apalagi anak muda jaman now,” ungkap Ageng saat memberikan sambutan dalam acara Festival Kuliner Sagu, Minggu (5/11/2017) di Swiss Belhotel Kendari. Ia menjelaskan, Indonesia merupakan negara terbesar pertama di dunia yang memiliki potensi lahan sagu sekitar 1,2 juta hektar. Jika potensi ini tidak dijaga dan dikembangkan oleh pemerintah dan generasi muda, maka keberadaannya akan sia-sia saja. Saat ini, kata Ageng, negara tetangga Malaysia sudah banyak menggunakan bahan sagu untuk keperluan industri. Ia takutkan nasib sagu jika tidak diperhatian akan sama dengan nasib budaya Indonesia yang diklaim bangsa lain. “Ayo jangan malu makan makanan dari sagu, kita punya hak untuk menjaganya,” kata Ageng. Apalagi di bidang kesehatan, sagu ternyata memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Sementara itu, Kepala Pusat Penganekaragman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Tri Agustin Satriani mengatakan, tahun 2018 pemerintah akan memberikan anggaran kepada Pemerintah Daerah Kolaka dan Buton Selatan (Busel) untuk pengembangan pangan lokal sagu dan ubi kayu. “Ini kita akan buatkan website dan semua informasi pangan lokal se-Indonesia akan masuk di sistem sehingga mudah diketahui, dan saat ini kami gencar untuk itu,” ungkapnya usai acara pembukaan Festival Kuliner Sagu. Untuk diketahui, dalam kegiatan Festival Kuliner Sagu ini banyak hidangan yang disajikan oleh pelaku usaha seperti makanan sagu yang dibuat rasa makanan Chinese, Jepang, Arabian dan Indonesia. Salah satu bintang tamu dalam acara ini, Ovil Finalis Stand Up Comedy Indonesia asal Sultra, mengatakan anak muda tidak perlu malu makan sinonggi atau jenis olahan lain dari Sagu. Sebab, sagu merupakan makanan khas asal daerah yang harus terus dijaga kelestariannya. “Mending makan sagu, ketimbang makan makanan yang tidak sehat, apalagi narkoba,” ungkapnya saat tampil di hadapan tamu undangan. Sumber zonasultra.com

Berita Terkait

  • Kementan Gandeng Pemprov Sumut Gelar OP Bawang Putih

    Medan - Untuk meredam melonjaknya harga bawang putih di Sumatera Utara (Sumut) yang sempat menyentuh harga Rp.90.000/kg, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) mengadakan Operasi Pasar.

    Sebanyak 5 container  masing-masing 29 ton bawang putih impor yang tiba  di Belawan Rabu, (13/4) langsung disebar di berbagai pasar di kota Medan.

    "Operasi pasar ini kami lakukan untuk menstabilkan harga bawang putih di tingkat konsumen yang mengalami tren kenaikan beberapa waktu terakhir," ujar  Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementan Riwantoro saat mel...

  • Kementan Pastikan Pasokan Pangan Pokok Aman Selama Ramadhan dan Iedul Fitri

    Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pasokan pangan pokok selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) terutama bulan Ramadhan dan Iedul Fitri 1440 H mencukupi. Kepastian tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementan yang mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9).

    "Kita sudah cek, kondisi ketersediaan pangan pokok kita aman, baik untuk bulan puasa dan hari raya Iedul Fitri," terang Agung, dalam acara bertajuk 'Pengendalian Harga Pangan' tersebut di Gedung Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo)...

  • Harga Cabai Jatuh, Kementan Gerak Cepat Bantu Petani Tuban

    Memasuki panen raya, harga berbagai jenis cabai di Kabupaten Tuban Jawa Timur, khususnya di Kecamatan Grabagan jatuh. Laporan petugas pencatat harga,  Sabtu (11/5), harga cabai rawit merah (CRM) sekitar 4.500/kg dan cabai merah keriting (CMK) Rp 5.500/kg, dari harga seminggu sebelumnya yang berkisar Rp 10.000/kg.

    Merespon kondisi tersebut, Kementerian Pertanian bergerak cepat turun lapangan membeli cabai  petani dengan harga yang lebih mahal, yakni Rp. 8.000/kg untuk mencegah kerugian petani sekaligus  memberi semangat agar petani tetap menanam pada musim berikutnya.

    "Kami bersama-sama turun k...