Era baru pengembangan industri pangan dan produk pangan (Food and Product Food/ FPF)

Diterbitkan pada Berita Umum Pada 02 Nov, 2018

Views: 346

Pangan dan produk pangan mempunyai sumbangan cukup besar pada perekonomian nasional, berpengaruh terhadap inflasi. Industri pangan dan minuman (mamin) menjadi penyumbang ke 2 terbesar Pendapatan Domestik Bruto non migas. Industri ini menyumbang 6,14 Persen PDB non migas pada tahun 2017 dengan pertumbuhan 8,3 persen. Oleh karena itu pengembangan industri mamin harus dijadikan prioritas dalam pembangunan ketahanan pangan.

Industri pangan dan produk pangan khususnya yang berbasis tepung-tepungan saat ini masih  banyak menggunakan bahan baku impor, misalnya terigu. Tahun 2018 impor gandum dan terigu diperkirakan lebih dari 11 juta ton atau meningkat rata-rata 12,2%/tahun.

Disisi lain Indonesia mempunyai potensi besar menghasilkan tepung singkong, jagung dan pati  sagu. Produk tepung lokal tersebu dapat dijadikan bahan baku industri FPF. Untuk itu Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi pada seminar dan workshop Internasional Plant Industry mengajak semua pihak melokalkan bahan baku industri FPF di Universitas Jember, Kamis (1/11).

"Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya perubahan kebiasan (habit movement) baik di sisi hulu, usaha tani,  maupun sektor paling hilir, yaitu meningkatkan konsumsi  produk pangan yang berbahan baku lokal," ujar Agung. 

Perubahan usaha tani ini menurut Agung, dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

"Produktivitas singkong misalnya, harus mampu mencapi 50 ton/ha. Dengan produktivitas diatas 50 ton, petani dapat menjual singkongnya sekitar  Rp 1200 dan sudah mendapatkan untung besar," jelas Agung.

Masih menurut Agung, dengan harga singkong kurang dari Rp 1200/ kg, akan dihasilkan tepung mocaf dengan harga sekitar Rp 5.000/kg. Harga tersebut bisa bersaing atau minimal sama dengan terigu untuk industri.

"Kita bisa bayangkan, apabila produktivitas singkong lebih dari 50 ton/ha, harga tepung mocaf bisa lebih rendah lagi," papar Agung.

Melihat peluang tersebut, Agung  menantang civitas academica Universitas Jember bisa mendapatkan inovasi dan teknologi budidaya singkong yang mempunyai provitas 80 ton/ha.

Sementara itu  BKP akan  merumuskan kebijakan agar  FPF dapat  meningkatkan penggunaan komponen bahan baku lokal.

"Dalam kesempatan yang baik ini, saya mengajak semua stakeholder untuk mulai mewujudkan gerakan melokalkan bahan baku lokal," pungkas Agung.

Berita Terkait

  • Kementan Gandeng Pemprov Sumut Gelar OP Bawang Putih

    Medan - Untuk meredam melonjaknya harga bawang putih di Sumatera Utara (Sumut) yang sempat menyentuh harga Rp.90.000/kg, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) mengadakan Operasi Pasar.

    Sebanyak 5 container  masing-masing 29 ton bawang putih impor yang tiba  di Belawan Rabu, (13/4) langsung disebar di berbagai pasar di kota Medan.

    "Operasi pasar ini kami lakukan untuk menstabilkan harga bawang putih di tingkat konsumen yang mengalami tren kenaikan beberapa waktu terakhir," ujar  Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementan Riwantoro saat mel...

  • Kementan Pastikan Pasokan Pangan Pokok Aman Selama Ramadhan dan Iedul Fitri

    Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pasokan pangan pokok selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) terutama bulan Ramadhan dan Iedul Fitri 1440 H mencukupi. Kepastian tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementan yang mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9).

    "Kita sudah cek, kondisi ketersediaan pangan pokok kita aman, baik untuk bulan puasa dan hari raya Iedul Fitri," terang Agung, dalam acara bertajuk 'Pengendalian Harga Pangan' tersebut di Gedung Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo)...

  • Harga Cabai Jatuh, Kementan Gerak Cepat Bantu Petani Tuban

    Memasuki panen raya, harga berbagai jenis cabai di Kabupaten Tuban Jawa Timur, khususnya di Kecamatan Grabagan jatuh. Laporan petugas pencatat harga,  Sabtu (11/5), harga cabai rawit merah (CRM) sekitar 4.500/kg dan cabai merah keriting (CMK) Rp 5.500/kg, dari harga seminggu sebelumnya yang berkisar Rp 10.000/kg.

    Merespon kondisi tersebut, Kementerian Pertanian bergerak cepat turun lapangan membeli cabai  petani dengan harga yang lebih mahal, yakni Rp. 8.000/kg untuk mencegah kerugian petani sekaligus  memberi semangat agar petani tetap menanam pada musim berikutnya.

    "Kami bersama-sama turun k...