BKP Kementan Lakukan Panen Perdana di Lokasi Program Pertanian Masuk Sekolah

Kementerian Pertanian dibawah komando Menteri Syahrul Yasin Limpo sejak tahun 2019 tengah mempersiapkan regenerasi petani dan meningkatkan minat kaum milenial terhadap dunia pertanian melalui Program Pertanian Masuk Sekolah atau PMS.

“PMS merupakan langkah fundamental untuk memastikan bahwa sektor pertanian merupakan bidang yang menjanjikan sebagai sebuah profesi sekaligus langkah awal untuk regenerasi petani,” kata Agung Hendriadi, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) saat melakukan panen perdana komoditas cabai, terong, dan sawi pada program Pertanian Masuk Sekolah di SMK PPN Kalasey Manado pada Jum’at (17/01).

Agung menegaskan jika konsep PMS ini tergolong spesial, pembelajaran tentang pertanian bahkan dilakukan sebelum menanam. Menurutnya, siswa diperkenalkan berbagai macam sayur atau tanaman yang akan dibudidayakan, termasuk manfaat dan nilai ekonomis komoditasnya. Selanjutnya, siswa akan dilatih cara budidaya, pengendalian hama, penyakit tanaman, dan perawatan tanaman. Agung pun berharap jika aktivitas ini menumbuhkan kecintaan siswa terhadap pertanian dan direplikasi untuk dikembangkan di rumah.

“Saya perlu mengingatkan bahwa dari 265 juta penduduk di Indonesia, jika  ada yang lapar maka kita harus bertanggungjawab karena ini menjadi tugas kita semua. Kita perlu menyediakan pangan sepanjang waktu dan SDM nya harus kita siapkan sejak dini," jelas Agung.

Diapun mengungkapkan harapannya kepada SMK PPN Kalasey dan SMA 8 Manado sebagai contoh bagi pengembangan model pertanian di seluruh Provinsi Sulawesi Utara.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA 8 Manado, Mediatric mengungkapkan kebahagiaannya akan program Pertanian Masuk Sekolah karena ada perubahan besar semenjak program ini masuk ke sekolahnya.

"Sebelumnya kami hanya fokus ke tanaman bunga, tapi sejak ada program Pertanian Masuk Sekolah, sekarang ada budidaya pertanian yang sangat menarik. Siswa belajar pembibitan, menanam di hidroponik dan budidaya langsung di kebun. Kami mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari orang tua dan pihak luar karena ada perubahan besar di sekolah kami. Anak-anak sekarang mencintai pertanian dan orang tua support ke sekolah kami," beber Mediatric.

Mediatric menambahkan bahwa kedepan pihaknya juga akan mereplikasi kegiatan ini untuk dipraktekan di rumanh. “Saya arahkan siswa menanam sayur di dalam pot, jadi 1 siswa 2 pot dan bisa dibawa pulang ke rumah. Dengan begitu manfaat akan lebih terasa bagi keluarga’ tegasnya.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Sekolah SMK PPN Kalasey atas dukungan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap dunia pertanian.

“Melaui kegiatan PMS, hari ini kami bisa panen sawi, terong, cabai baik hidroponik dan budidaya lahan. Selain itu saat ini kami sedang fokus untuk meningkatkan pemasaran produk pertanian agar nilainya bertambah,” terang Jimmy.

Dari kunjungannya ke 2 sekolah tersebut, Agung pun optimis jika program PMS ini benar-benar akan memberikan manfaat kepada siswa dan juga sekolah.

“Saya tadi mendengar dari ibu Kepala Sekolah, dan langkah ini harus kita tiru dan replikasi ke lokasi lain. Coba bayangkan jika anak-anak dilatih membuat bibit dan menanamnya di rumah, lalu ini menjadi gerakan secara masif, hasilnya akan sangat luar biasa,” pungkas Agung.