BKP Kementan Ajak Perguruan Tinggi Kembangkan Industri Pertanian 4.0

MAKASAR - Perkembangan teknologi digital 4.0 saat ini menjadi pendorong utama dalam pembangunan di segala bidang. Perkembangan Revolusi industri ke-4 juga telah mengaburkan batasan antara lingkungan fisik, digital, dan biologis.

"Perkembangan mobile technology yang dimulai dari 2G, 3G, 4G, dan yang sekarang sedang booming (5G) telah mendisrupsi berbagai layanan manual yang ada,” ungkap Andriko Noto Susanto, Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP)  Kementerian Pertanian (Kementan) saat didaulat sebagai Keynote Speaker mewakili Kementerian Pertanian pada Seminar Nasional Pengembangan Agribisnis yang diselenggarakan oleh Universitas Hasanuddin di Hotel Rinra Makassar,  Selasa (22/10/2019).

Menurut Andriko, disrupsi di era digital 4.0 tidak hanya merambah ke dunia media semata, termasuk juga di bidang pertanian.

Era pertanian 2.0 ditandai oleh sistem pertanian tradisional telah digantikan dengan teknologi mesin, era pertanian 3.0 ditandai oleh teknologi mesin yang telah dimodifikasi dalam skala lebih luas, dan saat ini di era 4.0 diikuti oleh penggunaan sistem syber, internet of things (IoT), dan kekuatan jaringan yang telah digunakan dalam smart farming.

“Era pengembangan pertanian digital 4.0 ini ditandai dengan peningkatan konektivitas dari mesin ke mesin, mesin ke cloud, dan cloud ke cloud sehingga memudahkan dalam peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian,” jelas Andriko.

Wakil Dekan II Fakultas Pertanian UNHAS, Zainal mengungkapkan bahwa perguruan tinggi, khususnya Fakultas Pertanian saat ini tengah melakukan akselerasi peningkatan kompetensi bagi mahasiswa agar siap menghadapi era 4.0

“Pengembangan Kompetensi SDM dilakukan dengan redesign kurikulum mengacu i.4.0, peningkatan riset, pelatihan dan magang industri pertanian, mengembangkan pusat inovasi dan program studi,” ujar Zainal.

Mengadopsi digital 4.0, Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai terobosan pengembangan teknologi mendukung pertanian modern, di antaranya: Sistem Monitoring Pertanaman Padi atau yang lebih dikenal dengan SIMOTANDI, Sistem Informasi Lahan Pertanian, Sistem Database Terintegrasi SIMLUHTAN, Kelender Tanam Terpadu (KATAM TERPADU) dan teknologi modern lainnya seperti drone, autonomus tractor, dll.

Jangkauan Inovasi yang dilakukan mencakup pengolahan, pembiayaan, dan pemasaran hasil pertanian.

Berbagai inovasi pengolahan pangan telah dikembangkan untuk memperpanjang umur simpan dan memperluas jangkauan pemasaran melalui riset dan pengembangan serta edukasi kepada user.

Inovasi pembiayaan dengan sistem crowd funding (investasi bersama) untuk mendukung produksi pertanian juga telah hadir. Beberapa di antaranya  seperti iGrow, Tani Fund, Crowde, dan Dompet Dhuafa.

Di bidang pemasaran, e-commerce seperti Rego Pantes,Sayurbox, Etanne, Limakilo, dan Tanihub lahir untuk meningkatkan efisiensi pemasaran dengan memangkas rantai pasok dari produsen ke konsumen.

Dengan berbagai inovasi karya anak negeri,  Andriko berharap ke depan pengembangan pertanian akan lebih dimasifkan dengan peningkatan kelembagaan petani melalui korporasi pertanian berkelanjutan.

“Mimpi besar ke depan adalah bagaimana memuliakan petani, membuat petani semakin maju dan sejahtera. Oleh sebab itu, industri pertanian melalui korporasi petani harus terus didorong dengan mengadopsi teknologi 4.0 agar petani memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan kebijakan pertanian mereka,” pungkas Andriko

Acara Seminar Nasional juga dihadiri oleh Dr. Bayu Krisnamurti (Pembina Agribisnis Indonesia), Dr. Agus Wahyudi (Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Dirjen Perkebunan, Kementan), Prof Hermanto (Guru Besar IPB), Prof Rahim Darma (Guru Besar UNHAS), serta civitas akademika UNHAS.