Bilateral Meeting Indonesia dan Private Sector Mechanism (PSM-FAO)

Di sela-sela Symposium Internasional bertemakan " _Agricultural Innovation for Family Farmers : Unlocking the Potential of Agricultural Innovation to Achieve the Sustainable Development Goals" di FAO Head Quarter_, Roma, Italia,  21-23 November 2018, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi selaku Ketua Delegasi Republik Indonesia (Delri) melakukan pertemuan Bilateral dengan _Private Sector Mechanism (PSM) FAO._

Sembilan orang perwakilan sektor swasta pangan dan pertanian yang tergabung dalam PSM-FAO antara lain dari : Philipina, Belgia, USA, Swiss, Kenya, Norway, Uruguay, Vietnam dan Indonesia sangat serius mendengarkan penjelasan Agung Hendriadi.

Diskusi ini sangat menarik, karena yang menjadi topik adalah _Peran Pemuda dalam Pertanian dan Peluang Investasi di Indonesia_.

Agung Hendriadi menyampaikan bahwa pemerintah  Indonesia melalui Kementerian Pertanian mempunyai kebijakan bahwa pertanian tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan semata, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurut Agung, persoalan yang sama dengan negara lain juga dihadapi oleh Indonesia,  bahwa sektor pertanian semakin ditinggalkan generasi muda.

"Hingga 70% generasi muda cenderung beralih ke sektor lain, sehingga pertanian lebih didominasi oleh yang berusia lanjut (old farmers)," jelas Agung.

Menyikapi hal tersebut, menurut Agung,   pemerintah Indonesia telah membuat Gerakan Pemuda Tani Indonesia (GEMPITA),  yaitu pelembagaan dari suatu komitmen negara untuk memberdayakan pemuda dan merawat identitas nusantara sebagai bangsa agraris.

"Regenerasi petani dan pemanfaatan lahan pertanian seluas-luasnya agar menjadi produktif adalah pola gerak Gempita. Para pemuda dihadirkan ke dalam pertanian yg ditunjang dengan inovasi tekhnologi pertanian untuk peningkatan produktivitas, peningkatan akses terhadap permodalan serta peningkatan kemampuan untuk melaksanakan pertanian yang berkelanjutan," kata Agung.

Bahkan, lanjut Agung, untuk menyiapkan generasi muda terjun ke sektor pertanian, Kementerian Pertanian  telah menyelenggarakan pendidikan tinggi Vokasi di 6 (enam) Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan).

Sesi diskusi ini semakin menarik ketika membahas isu-isu bilateral seperti :  bagaimana mengembalikan generasi muda ke sektor pertanian,  dimana tantangannya adalah bagaimana merubah mindset generasi muda dan membuat pertanian menjadi suatu kegiatan yang menarik, serta memberikan prospek kehidupan masa depan yang baik, sehingga generasi muda mau bergerak di bidang pertanian.

Isu lain yang tidak kalah seru adalah peluang investasi di Indonesia, khususnya di sektor pertanian.

Terkait dengan peluang investasi di Indonesia, Agung menyampaikan bahwa pada dasarnya Indonesia terbuka untuk melakukan kerjasama dengan pihak swasta baik dari dalam maupun luar negeri sepanjang mempunyai visi yang sama dan saling menguntungkan untuk kedua belah pihak," kata Agung menjelaskan peluang investasi di Indonesia.

Yang lebih penting, lanjut Agung,  investasi yang dilakukan harus dapat menjadikan sektor pertanian semakin kuat, berkelanjutan, dan menjadikan petani sebagai pelaku utama pertanian (bukan objek).

"Kami harapkan investasi yang dilakukan tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi pangan, tetapi harus mampu meningkatkan kesejahteraan petani," tegas Agung.

Merespon apa yang disampaikan Agung, salah seorang anggota PSM-FAO menyatakan,  sangat tertarik dengan sistim yang ada di Indonesia yang menjadikan petani sebagai pelaku  pertanian terlihat dari kegiatan Musrenbangdes.

"Kami sangat tertarik dari penjelasan yang disampaikan Indonesia. Dan kami berminat untuk melakukan penjajakan untuk berinvestasi," ujar perwakilan dari negara USA penuh semangat.

Forum ini memberikan kesempatan kepada petani termasuk pemuda tani untuk menyampaikan ide-ide dan inovasi untuk meningkatkan akses mereka kepada teknologi, permodalan, infrastruktur dan akses.

Dan  yang lebih utama adalah bagaimana mereka bisa mengenali kebutuhan mereka sendiri dalam melaksanakan kegiatan usahatani,  serta menentukan sendiri usahatani apa yang akan mereka kembangkan.