BADAN KETAHANAN PANGAN MENERIMA PERWAKILAN PEMERINTAH AFGHANISTAN

Diterbitkan pada Berita Umum Pada 15 Nov, 2016

Views: 173

Jakarta, 10 November. FAO Indonesia bersama Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian menyelenggarakan Pelatihan Analisis Kebijakan Ketahanan Pangan dan Gizi serta study tour untuk pejabat dari Kementerian Pertanian, Irigasi dan Peternakan Afghanistan untuk meningkatkan kemampuan manajemen ketahanan pangan dan gizi di negara tersebut. Selama lima hari, mulai tanggal 7 sampai 11 November, sepuluh orang pewakilan pejabat Kementerian Pertanian, Irigasi dan Peternakan Afghanistan mengikuti pelatihan tentang analisis manajemen ketahanan pangan dan gizi serta mempelajari contoh-contoh intervensi yang baik terkait ketahanan pangan dan gizi di Jakarta dan Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Peserta mempelajari beragam topik berkaitan dengan kebijakan ketahanan pangan pemerintah Indonesia termasuk di dalamnya: ketersediaan dan kerawanan pangan, sistem peringatan dini ketahanan pangan dan gizi, metode dan penilaian neraca pangan, konsumsi dan diversifikasi pangan, keamanan pangan, kebijakan distribusi pangan dan pangan organik. Pejabat kementerian pertanian, irigasi dan peternakan Afghanistan juga mengunjungi Kawasan Rumah Pangan Lestari [KRPL] yang dipunyai Kelompok Wanita Tani "Puspasari" di Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal Bogor untuk mempelajari berbagai macam tanaman obat-obatan, sayuran, buah dan palawija di Indonesia. Afghanistan baru saja menyelesaikan kebijakan ketahanan pangan dan gizi serta sedang berusaha membentuk unit khusus yang menangani ketahanan pangan dan gizi di negara tersebut. "Indonesia memiliki struktur yang sangat bagus, termasuk adanya Badan Ketahanan Pangan di bawah Kementerian Pertanian serta keberadaan Dewan Ketahanan Pangan. Dua institusi seperti itulah yang ingin kami kembangkan. Saat ini kami tidak memiliki instansi khusus ketahanan pangan di bawah kementerian," kata Direktur Jenderal Koordinasi dan Perencanaan Program, Kementerian Pertanian, Irigasi dan Peternakan Afghanistan, Muhammad Shakir Mujeedi. Sekitar 33% penduduk Afghanistan mengalami rawan pangan sementara 14% penduduk kondisinya sudah tahan pangan namun tetap rentan mengalami rawan pangan. Kondisi rawan pangan yang parah tercermin dari malnutrisi yang meluas dan diperparah oleh kondisi kesehatan dan sanitasi yang buruk serta ketidak perdulian pada lingkungan. Lebih dari setengah balita di Afghanistan mengalami malnutrisi kronis dan kondisi gizi buruk. Hal ini menekan pendapatan domestik bruto (GDP) sebesar 2-3% per tahun. Afghanistan juga mengalami kelangkaan pangan terutama gandum yang merupakan makanan pokok rakyatnya. Setiap tahun negara itu kekurangan 1,15 juta MT gandum, yang menjadi salah satu penyebab kondisi rawan pangan secara nasional. Indonesia menyambut baik kunjungan delegasi Afghanistan dan berharap study tour ini akan bermanfaat bagi kedua negara di kemudian hari. "Ini adalah pengalaman yang baik untuk kita, saling berbagi pengalaman dengan Afghanistan. Kami berharap studi ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman, terutama bagi para pejabat pemerintahan Afghanistan, untuk membangun dan mengimplementasikan kebijakan dan program ketahanan pangan di negaranya, untuk mencapai target SDGs di tahun 2030. Kami menyadari terdapat beberapa perbedaan, dalam hal budaya dan kondisi geografis, antara Indonesia dan Afghanistan. Tapi kami percaya, mekanisme koordinasi, tipe aktivitas, dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di Indonesia, sekiranya sesuai dapat direplikasi di Afghanistan,” ungkap Dr. Gardjita Budi, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Study tour ini diharapkan akan menjadi awal kerja sama jangka panjang yang kuat antara Indonesia dan Afghanistan. "Paling utama adalah bagaimana kami bisa terus berdiskusi untuk menciptakan kerja sama jangka panjang dengan kolega-kolega kami di Indonesia. Baik itu dengan berbagi pengalaman atau kunjungan tenaga ahli Indonesia ke Afganisthan. Pengetahuan dan pengalaman Indonesia layak dibagikan kepada negara-negara lain di dunia," kata Majeedi. Indonesia dan Afghanistan adalah anggota Kerja Sama Selatan Selatan sementara FAO berperan sebagai fasilitator, bekerja sama dengan lebih dari 20 negara penyedia dan 80 tuan rumah serta 15 mitra segitiga selama bertahun-tahun. FAO menyediakan ruang bagi negara-negara untuk membangun jaringan serta mendukung penyesuaian berbagai negara dalam menawarkan bimbingan teknis, saran mengenai modalitas yang tepat dan menjamin komitmen mitra terhadap kerja sama. "FAO selalu mencari cara untuk menciptakan kerja sama yang kuat di antara negara-negara dimana setiap negara bisa mengemukakan keunggulan mereka di bidang pangan dan pertanian. Indonesia memiliki banyak sekali pengalaman dalam mengatasi kerawanan pangan dan kami berharap solusi inovatif Indonesia, juga institusi strukturalnya bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain," kata Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Mark Smulders. Jakarta, 10 November

Berita Terkait

  • Khawatir Harga Gabah Anjlok, Petani Minta Bulog Lakukan Pembelian Sekarang

    Beberapa daerah sentra produksi beras saat ini sedang panen raya dan mestinya petani bergembira menikmati hasil usahataninya. Namun beberapa petani  mengeluh karena harga jatuh dan Bulog belum bergerak melakukan pembelian.

    Sejumlah petani di daerah sentra produksi yang dihubungi mengeluhkan dan mengharapkan Bulog segera turun tangan melalukan pembelian gabah mereka.

    Lalu Saleh,  petani dari Lombok Barat - Nusa Tenggara Barat mengeluhkan,  sudah seminggu ini harga gabah menyentuh angka Rp. 4.000/kg gabah kering panen (gkp).

    "Sudah seminggu ini harga gabah mencapai 4.000 dan cenderung turun teru...

  • BKP Kementan Tugaskan CPNS Kawal Program PKU dan PIPL

    Setiap tahun Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian mengidentifikasi lokasi-lokasi yang masih terdapat kerentanan pangan di Indonesia dengan basis Kabupaten.

    Setelah berhasil meningkatkan status ketahanan pangan wilayah di 177 kabupaten melalui Kawasan Rumah Pangan Lestari dan Kawasan Mandiri Pangan, mulai tahun 2019 BKP melakukan intervensi melalui Pengembangan  Koorporasi Usahatani (PKU) dan Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL).

    Tujuan kegiatan PKU adalah meningkatkan nilai tambah produk komoditas kelompoktani dan kesejahteraan petani.

    Sedangkan PIPL bertujuan untuk meningka...

  • Program Kampung Hijau Sejahtera Sebagai Pengembangan KRPL Kementan Dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat

    Pandeglang (BKP) - Jawa Barat.  Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja tahun ini meluncurkan sebuah kegiatan bertajuk Kampung Hijau Sejahtera (Kampung Hijrah) pertama kalinya di Desa Margagiri, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, prorinsi Banten Senin (11/3).

    Kegiatan Kampung Hijrah  bertujuan untuk memanfaatkan dan  menghijaukan pekarangan guna meningkatkan ekonomi produktif keluarga serta pelestarian tanaman lokal.

    Kegiatan ini digagas dan dipelopori oleh OASE KK bidang Lingkungan Hijau (bidang V) yang diketuai oleh Rugaiya Usman Wiranto (Kementerian Koordinator Bidang P...